Tahun 2022 adalah masa yang sulit dalam hidup saya. Tapi di balik semua keterpurukan itu, saya menemukan sesuatu yang lebih dalam petunjuk “Clue” yang mengarah pada jalan yang selama ini saya abaikan, munculnya kembali gairah yang pernah saya kubur dalam-dalam, dan perlahan mulai saya pahami bahwa semua ini membawa hikmah yang membentuk versi diri saya yang lebih utuh.
Sebelum semuanya berubah, saya punya pekerjaan yang stabil. Penghasilan cukup tinggi, kehidupan berjalan dengan baik. Hingga pada suatu titik, saya terkena PHK. Sertifikat pelaut saya pun kedaluwarsa. Seolah semuanya runtuh sekaligus. Tamat sudah, pikir saya waktu itu.
Saya belum terbiasa bekerja di darat, apalagi sebagai pegawai kantoran. Hari-hari terasa kosong. Saya menganggur cukup lama, tanpa penghasilan tambahan. Bingung. Malu. Terombang-ambing tanpa arah.
Akhirnya, saya memberanikan diri menggunakan sisa saldo dari BPJS Ketenagakerjaan untuk berjualan parfum. Awalnya cukup laku, tapi tidak bertahan lama. Bisnis kecil itu pun ikut tenggelam. Namun anehnya, di tengah kejatuhan itu saya justru teringat sesuatu—sebuah keinginan lama yang dulu sempat terlintas di tengah laut:
ingin mencoba bisnis kecil-kecilan di darat, agar bisa setiap hari bertemu keluarga.
Dan ini bukan kali pertama hal seperti itu terjadi. Setiap apa yang saya pikirkan dengan tulus, meski hanya sekilas, entah bagaimana selalu terjadi. Dulu saya membayangkan betapa enaknya bekerja di kapal jenis tertentu—dan tak lama kemudian, saya benar-benar berada di kapal itu. Begitu pula dengan fase hidup dari 2022 hingga 2025. Semuanya seperti rangkaian petunjuk yang secara perlahan menuntun saya pada apa yang sebenarnya saya butuhkan.
Saya sempat bekerja di proyek swasta sebagai procurement dan logistik di Kediri, lalu menjadi admin teknik di proyek pemerintah: preservasi Jalan Kurima–Tangma, Wamena, Papua Pegunungan. Pengalaman dan ilmu yang saya peroleh selama itu sangat berharga. Dan semuanya terjadi di darat. Persis seperti yang dulu saya pikirkan saat berada di kapal.
Namun, satu hal yang tidak bisa saya temukan di semua pekerjaan itu adalah kepuasan batin. Rasa “penuh” yang dulu saya rasakan saat bekerja di kapal tak pernah muncul lagi. Mungkin karena memang di situlah gairah saya berada—di laut, di antara ritme kerja yang keras namun jujur.
Dan kini, gairah itu kembali datang. Tapi tidak seperti dulu. Kali ini, saya lebih sadar. Saya ingin kembali berlayar dengan pola hidup yang lebih teratur, manajemen waktu yang lebih matang, dan jiwa yang lebih tenang.
Petunjuk datang dari seseorang yang sudah lama tak saya jumpai. Obrolan kami sederhana, tapi ucapannya menggugah:
Kamu itu passion-nya memang di kapal.” Saya terdiam. Merenung. “Benar juga, ya…”
Dari perjalanan saya bekerja di darat, saya tidak pulang dengan tangan kosong. Saya membawa hikmah yang tak ternilai: belajar manajemen, memahami media sosial, mengarahkan talent, bahkan membangun website statis super cepat dari nol dengan Jekyll dan GitHub—yang membuat Anda bisa membaca tulisan ini sekarang.
Saya juga sempat membuat kalkulator perhitungan proyek seperti LPA, LPB, mobilisasi angkut, hingga estimasi biaya. Semua itu adalah bekal yang diam-diam sedang dipersiapkan hidup untuk saya.
Untuk saat ini, saya cukupkan tulisan ini di sini. Akan saya lanjutkan nanti—ketika petunjuk baru datang lagi, gairah kembali tumbuh, dan hikmah terus mengalir bersama perjalanan hidup ini.